Oleh : DEWI ULFAH ARINI, Psikolog
Psikolog dari Lembaga Konsultan Psikologi ToBee
Suatu malam, aku melihat anakku Ami terlihat gelisah dengan berjalan bolak-balik dari ruang keluarga ke kamarnya. “Ibu, Apa lagi yah yang kurang? Baju udah, buku udah trus tempat pensil dan tas udah, mukenah udah... apa lagi ya?” sambil mengeluarkan isi tas dan memasukkannya kembali. “Ohya, baju ganti dan sajadah bu.., ini boleh aku pakai yah disekolah?” aku hanya melirik dan mengangguk pelan. Dengan cepat kilat diambilnya kedua barang tersebut dan dimasukkannya kedalam tas. Kemudian, Ami mendekat padaku “ Bu, kelas 1 itu seperti apa sih? Susah ya bu? Gurunya galak ga sih, soalnya kata Mbak Dinda gurunya Galak? Gimana nih? Trus kalau nanti Ami ga ada temen gimana?” dan segunung lagi kekhawatiran yang disampaikan oleh Buah hatiku ini. “Kelas 1 itu sama kaya Ami mau masuk TK dulu. Udahlah Ga apa-apa kok nak, kan Ada Allah yang selalu menjaga dan menemani Ami disana. Lagipula, Ami belum tahu besok gimana? Yang penting Ami PD aja, Ibu yakin Ami pasti BISA” Aku berusaha menenangkan hatinya yang gundah dan penuh dengan kehawatiran itu. Tapi Ami masih saja penuh dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai sekolah. Aku berusaha mengalihkan dengan bertanya, “ Ami, seragam, sepatu, kaoskaki dan pakaian dalam udah disiapkan belum, mi?”. “ SUDAH BU..” dengan sigap Ami menjawab.
Keesokan paginya, Ami bangun pagi-pagi sekali dan masih dengan berbagai pertanyaan yang sama dengan semalam. Sambil memakaikan baju Ami, kemudian aku memeluk dan mencium pipi Ami, sambil mencoba untuk menguatkan hati Ami. Aku berkata:
“Sayang, Ibu Sayaaaaannnggg banget sama Ami, terus Anak Ibu yang paling disayang kan adalah AMIRA, karena kamu anak Ibu yang paling HEBAT. Ibu harap kamu jadi anak yang baik, shaleh dan bisa mengajarkan adik kamu kelak, karena kamu anak yang paling pintar. Makanya Ibu sekolahkan Ami disekolah yang paling Bagus. Ibu Yakin kamu pasti BISA.” Aku membisikkan kata-kata ini sambil aku selipkan bros dikerah bajunya. Aku berkata,” Ini Bros, waktu Ibu kecil dulu, supaya ibu merasa tenang. Gimana ami juga mau pake ga?” sambil tersenyum aku berusaha menenangkan hati buah hatiku yang Gelisah. Ami menganggukkan kepalanya. “Jadi kalo pake Bros ini, Ami jadi kuat ya bu?”. Aku memberikan jempol padanya. Ami mulai tersenyum lebar dan siap dengan baju seragam barunya. Malahan, ayahnya ketinggalan...
Betapa bangganya aku pada buah hatiku ini, ternyata Ami sudah besar yah.. Aku mengantarkannya sampai pintu gerbang sekolah dan membiarkan Ami masuk kelas sendiri. Dengan langkah yang tegap dan percaya diri Anakku AMIRA memasuki kelas barunya. Aku berharap Ami dapat berteman dengan kawan-kawan barunya dengan baik dan mandiri. Ketika Ami memasuki kelas baru, Ami sangat terkejut ternyata banyak teman-teman TK-nya yang masuk ke SD tersebut dan guru TK-nya yang baik bernama Mam Ella. Sekarang sudah “naik pangkat” jadi guru wali kelas di kelas I. Pantes aja, Ami sumringah ketika memasuki kelas pagi ini.
Ketika Ami memasuki sekolah barunya, aku, adik Nisa dan suamiku pulang kerumah dengan hati yang lega. Dalam hati aku berdoa semoga Ami bisa menuntut Ilmu disana dan kelak menjadi Hafidzah seperti nama yang kami berikan padanya.
Ternyata Bun, bagi anak-anak sekolah itu bisa jadi hal yang menyenangkan atau bahkan menakutkan. Tergantung dari persepsi dan pandangan yang kita berikan pada anak. Oleh karena itu, berikanlah selalu pandangan yang positif terhadap berbagai hal, walaupun copet, gelandangan sekalipun. Karena, anak belum mengetahui bagaimana suatu ketakutan ini dialihkan. Bila orangtua memberikan persepsi yang negatif pada ketakutan, anak bisa jadi akan mengalami ketakutan yang berlebihan atau fobia. Akan lebih baik bila, anak yang mengalami kegelisahan diberikan motivasi dan pandangan yang positif sehingga anak dapat lebih percaya diri, selalu berfikiran positif dan dapat mengolah emosinya dengan baik.
Semoga Sukses
Dewi Ulfah Arini, Psikolog
Tidak ada komentar:
Posting Komentar