Kamis, 30 September 2010

GANGGUAN KEPRIBADIAN

SULIT TAMPIL DIMUKA UMUM

Saat sedang menunggu kereta -yang telambat- di Stasiun J, saya berkenalan dengan seorang Ibu. Terlihat bahwa Ibu tersebut sepertinya terpelajar dan (mungkin) orang kantoran. Kami ngobrol mengenai banyak masalah, mulai dari gerundelan jadwal kereta yang kurang sistmatis dan terbuka, keterlambatan kereta, pemerintahan kita yang begini-begini saja dan makin parah, keluarga, suami bahkan sampai masalah anak. Hanya saja pada saat kami membahas masalah anak, terlihat Ibu tersebut sangat lesu dan hopeless. Dia bercerita bahwa:

“ Anakku laki-laki (22 tahun) baru lulus kuliah Akutansi, sampai sekarang masih nganggur. Saat ini sedang mencari pekerjaan, mbak. Kok, sepertinya suliiit sekali yah.. padahal koneksi saya dan ayahnya buanyak. Malah perusahaan yang besar-besar, tapi sepertinya dia nggak Pede untuk melamar kesana. Dengan alasan Bahasa Inggris ga bisa, apalagi kalo interview dalam bahasa Inggris. Dia langsung ga PD dan gak masuk kedalam untuk menemui interviewernya. Pernah juga loh, saya ajak ke Psikolog, dan dikasih saran untuk belajar berbicara dikelompok kecil seperti keluarga, atau kelompok kecil yang terdiri dari orang-orang yang pemalu, dan disarankan juga berpidato didepan mereka tentang sesuatu yang dia tahu, katanya kalo ga tau malah tambah malu dan minder. Tapi mbak, disini mana ada les untuk begitu dan nyari orang-orang yang pemalu itu dimana, ya kan? Jadi menurut mbak, bagaimana nih menghadapi anak saya yang pemaluuuu banget. Ngomong sama temen-temennya aja jarang apalagi begitu.”

Aku terhenyak juga mendengar keluhan dari Ibu yang baru saya kenal ini. Laki-laki kok gak PD dengan kemampuannya? Apakah ada trauma-trauma masa lalu yang membuat anak itu ga PD yah? Bagaimana kondisi dirumah yah? Siapa yang lebih dominan, Ayah atau Ibu? Seberapa jauh ga PD-nya anak itu yah, apakah sampai keluar keringat dingin, gemeteran dan sampai menjadi gangguan fisik lainnya? Aku pun mencoba mengajukan berbagai pertanyaan-pertanyaan tersebut.

“ Saya yakin anak saya itu pandai yah.. karena dari dulu selalu rangking terus walaupun hanya sepuluh besar, kok. Kalo soal dominan antara saya dan ayahnya, kayanya sama yah.. Kami jarang marah-marah dan kami selalu bersama-sama. Pokoknya anak itu selalu dalam pengawasan kami dan baik-baik saja dalam keluarga kami. Yah begitulah mbak, ga PD-nya sampai keluar keringat dingin, trus kalo udah mau masuk ruang interview langsung mules dan sakit. Pokoknya kadang bikin saya kesel juga... Saya kasian dengan dia mbak, bagaimana kehidupan dia nanti kalo begini terus.”

Wah, aku lupa yah... kalo orangtua itu selalu merasa “perfecto” (ngaku...!!) dan merasa lebih baik dan berpengalaman dari anak, dan yang paling penting Orangtua itu ga akan terbuka dengan oranglain tentang pola asuh yang diterapkan dirumah. Apalagi menyangkut trauma-trauma anak, selain itu aku kan masih baru kenal. Yah.. sudahlah..!( kata BONDAN...;) ). Aku berusaha memberi saran (bukan jalan keluar loh, abis digrattisin siii..)
“Bu, saya sangat memahami persaan dari anak Ibu, apalagi itu laki-laki dan anak pertama pula. Yang menjadi contoh dan tumpuan nantinya bagi orangtua, keluarga dan adiknya. Saya juga memahami benar kesulitannya dalam mengadakan komunikasi verbal dengan oranglain. Gejala yang dilamai oleh anak Ibu, menurut pengalaman saya adalah berangkat dari PERSEPSI (cara pandang) anak Ibu terhadap CITRA DIRInya. Pengalaman menunjukkan, seseorang yang mudah melakukan komunikasi dengan orang lain (ceramah, pidato atau interview) biasanya adalah orang yang menguasai benar kelmahan dan kelebihan dari orang itu. Begitu pula dengan anak Ibu. Disamping itu kita juga harus mengetahui dan memahami apa yang menjadi tujuan dan yang harus dilakukan dalam situasi seperti itu. Kalo sampe ada gangguan fisik pada anak Ibu, itu namanya PSIKOSMATIS bu. “
“Jadi anak harus secara INTENSIVE diberikan pemahaman dan mempelajari memberikan PERSEPSI POSITIF terhadap anak Ibu. Sekarang banyak kok bu, dibuka kursus-kursus untuk PUBLIC SPEAKING atau PENGEMBANGAN DIRI. Kan informasi sekarang lebih luas Bu...
Oya, Bu pengalaman masa lalu juga turut berperan penting loh, tapi kita juga jangan terlalu terpaku dengan trauma atau pengalaman masa lalu anak. Yang penting kedepannya aja bu. Tapi kayaknya juga perlu bu, ditelusuri tentang bakat dan minat anak supaya nanti anak mengetahui kelebihan dan kekurangan anak. Dukungan orangtua dan keluarga sangat penting Bu, untuk pemahaman PERSEPSI POSITIF anak. Kalo bisa sering-sering aja bu, diajak kumpul-kumpul dengan saudara atau masukkan aja kedalam kelompok yang sesuai dengan bakat dan minat anak. Dari situ anak akan belajar berkomunikasi dan mengutarakan ide atau gagasan.”

Ibu itu mengangguk-angguk.. (kayanya sih setuju dan mengerti... semoga..). Aku hanya tersenyum dan terakhir dengan ciri khas saya “ Yah, begitulah Bu, semoga bermanfaat yah..”
TENG TONG TENG TONG.............Bel tanda kereta datang dan Pengumuman dari suara Pak Petugas Stasiun mengumumkan kedatangan kereta dengan “merdunya”. Wah, kereta kami sudah tiba. Alhamdulillaaaahhh... penantian panjang kami hilang sudah. Lalu kami bersalaman dan bertukar nomer telpon, semoga lain kali bisa bertemu kembali dengan suasana dan diskusi yang berbeda. “Ok Bu, Selamat Jalan dan Semoga sampai di Tujuan dengan Selamat”, kataku.



True Story of my trip to J city


Dewi Ulfah Arini, Psikolog
Psikolog Lembaga Konsultan Psikologi ToBee

1 komentar:

  1. Pernahkah kita menyadari sebagai orangtua, dalam menanamkan pola asuh menyebabakan anak-anak kita tertekan dan menyebabkan tidak bisa mengambil keputusan dan kurang PD? bagaimana jika terjadi pada anak Laki-laki kita? akankah kita hanya diam dan emosi atau kita berusaha keluarkan dia dari keterpurukan rasa kurang PD ini?
    Marilah berbagi dengan post diatas..

    BalasHapus