Mengoptimalkan
IQ dan MULTIPLE INTELLIGENCES
oleh: Dewi Ulfah Arini, Psikologi
Psikolog Lembaga Konsultasi Psikologi Tobee
“Setelah hasil tes IQ dibagikan di TK X, seorang Bunda dengan sedih menerima amplop hasil anaknya. Seakan-akan tidak percaya dengan hasil yang baru saja diterima. Dalam hati beliau bertanya-tanya, “anakku kayanya pinter deh, tapi kok IQ-nya segini aja yah? Si A, kayanya biasa-biasa aja tapi malah IQ-nya tinggi sekali.”
Diatas adalah salah satu fenomena yang seringkali terjadi ketika anak kita dilakukan Tes IQ. Kenapa kok, anak kita sepertinya pintar tapi kenapa hasil IQnya rendah atau sebaliknya. Hal ini menjadi salah satu kegelisahan orangtua yang kemudian langsung memaksa anak untuk lebih keras lagi belajar. Hal yang sangat salah jika menjadikan Tes Intelegensi (IQ) yang dilakukan oleh anak untuk mengetahui sampai sejauh mana pemahaman anak terhadap informasi verbal dan non verbal, dijadikan tolak ukur untuk mengetahui kecerdasan anak. Padahal pada dasarnya IQ tersebut hanya mengukur sebagian kecil intelegensi atau kecakapan anak. IQ yang dimiliki oleh seseorang, dan ini bukanlah acuan bahwa anak tersebut cerdas atau berbakat.
Pada intinya Tes IQ, hanya mengukur antara lain:
- Kemampuan membayangkan ruang, melihat lingkungan sekeliling secara runtut atau menyeluruh, mencari hubungan antara satu bentuk dengan bentuk lainnya.
- Kemampuan Matematis
- Kemampuan mengenali, meyambung dan merangkai kata-kata dan mencari hubungan kata
- Memori atau Daya ingat
Namun, yang seringkali kita temukan dilapangan kalau tes IQ dapat mengeluarkan berbagai macam aspek. Padahal itu adalah penjabaran dari aspek-aspek inti yang telah ada. Oleh karena itulah, Tes IQ tidak menjadi patokan keberhasilan anak di kemudian hari, karena tes IQ tidak mengukur daya kreativitas anak, kemampuan sosialisasi anak dan kearifan anak, sehingga seringkali muncul pertanyaan “seberapa pandaikah saya?” dalam diri anak atau “ seberapa pandaikah anak saya?”
Pada dasarnya, hal ini tidak perlu terjadi jika orangtua mengenal kecerdasan lain dari anak yang dapat ditingkatkan dan dikembangkan sehingga anak dapat percaya diri, kreatif dan dapat lebih meningkatkan potensi belajar anak. Sehingga pertanyaan diatas akab berubah menjadi “Bagaimana saya menjadi pandai?”
Setiap manusia dilahirkan dengan sejumlah kecerdasan dapat potensial yang siap dikembangkan, dengan mengetahui perkembangan Multiple Intelligences, kita dapat meningkatkan kemampuan kita dan menggapai cita-cita dan tujuan hidup kita. Kita perlu mengetahui berbagai potensi kecerdasan anak yang dikenalkan oleh Dr. Howard Gardner terdiri dari 8 buah kecerdasan dalam diri setiap manusia, antara lain:
- Kecerdasan Linguistik/Bahasa
Individu dengan kecerdasan verbal memiliki cirri khas : dapat membaca dan menulis dengan cepat, berkomunikasi (dalam bahasa ibu ataupun bahasa asing) dengan mudah
- Kecerdasan Logika Matematis
Keterampilan dalam mengolah angka dan perhitungannya, daya nalar hitungan berkembang baik, memiliki ketepatan dan ketelitian jika berhubungan dengan angka, kemampuan menyelesaikan masalah secara logis
- Kecerdasan Gerak
Menonjol dalam mengkoordinasikan dan ketangkasan fisik, terampil dalam motorik kasar maupun halus, spontan, control gerakan baik atau belajar melalui praktek langsung
- Kecerdasan Spasial
Pengamatan yang tajam terhadap lingkungan disekitarnya. Memiliki imajinasi yang tinggi sehingga dapat mennghasilkan ide-ide yang kreatif, memiliki abstaksi ruang yang baik.
- Kecerdasan Musik
Kepekaan terhadap perbedaan bunyi, dapat mengekspresikan diri melalui musik dan trampil dalam mengikuti irama atau menari.
- Kecerdasan Intrapersonal
Peka terhadap kondisi yang ada disekitarnya, ia pun cukup pham kebutuhannya, pandai dan peka dalam mengenali emosi sendiri.
- Kecerdasan Interpersonal
Memahami cara berkomunikasi yang baik sesuai dengan orang yang dihadapi, mampu bekerjasama. Pandai memahami pikiran dan perasaan orang lain.
- Kecerdasan Naturalis
Pandai dan peka dalam mengamati sifat-sifat alam. Juga kemampuan untuk bekerjasama dan menyelaraskan diri dengan alam dan senang berada di lingkungan alam dan udara terbuka.
Terdapat satu kecerdasan yang masih dalam perdebatan oleh para peneliti, apakah termasuk dalam salah satu kecerdasan majemuk ataukah diluar dari kecerdasan tersebut, yaitu
- Kecerdasan Taransendental / Rohani ( SQ)
Pada dasarnya manusia dilahirkan dengan memiliki naluri keTuhanan, yaitu naluri adanya kekuasaan Transendental diluar dirinya dan diyakininya bisa memberik kekuatan, ketenangan, semangat bahkan rezeki dan hukuman.
Untuk mengembangkan kecerdasan seorang anak, diperlukan tiga kebutuhan pokok, yaitu kebutuhan fisik, emosi dan stimulasi dini dari orangtua dan lingkungan.
Pada dasarnya, saat ini kembangkanlah potensi anak yang lain karena anak memiliki karakter dan potensi masing-masing. Setiap anak memiliki ke-khasan masing-masing suka dan tidak suka harus bisa memahami potensi anak dan kembangkan dengan baik. Tuhan tidak menciptakan manusia dalam keadaan bodoh dan hina Namun lingkunganlah yang menciptakan stigma tersebut.
Yuk, Bunda dan Ayah bangun rasa percaya diri dan konsep positif pada anak, karena dapat meningkatkan kemampuan anak secara optimal. Hindari kata negatif yang dapat memicu anak pada kondisi ketidakstabilan dan rasa tak mampu pada diri anak.
Pemerhati anak
Dosen Universitas Pamulang
Konselor dan Psikolog
Tobeekonsultan@gmail.com
Pada dasarnya, saat ini kembangkanlah potensi anak yang lain karena anak memiliki karakter dan potensi masing-masing. Setiap anak memiliki ke-khasan masing-masing suka dan tidak suka harus bisa memahami potensi anak dan kembangkan dengan baik. Tuhan tidak menciptakan manusia dalam keadaan bodoh dan hina Namun lingkunganlah yang menciptakan stigma tersebut.
Yuk, Bunda dan Ayah bangun rasa percaya diri dan konsep positif pada anak, karena dapat meningkatkan kemampuan anak secara optimal. Hindari kata negatif yang dapat memicu anak pada kondisi ketidakstabilan dan rasa tak mampu pada diri anak.
Pemerhati anak
Dosen Universitas Pamulang
Konselor dan Psikolog
Tobeekonsultan@gmail.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar